Lada adalah salah satu komuditi unggulan di Aceh yang sekarang telah menjadi legenda. Tanaman lada sangat menyusut seiring dengan datangnya tanaman komuditi lain yang dianggap lebih menguntungkan oleh petani. Dulu, umumnya petani di Aceh menanam lada di kebun mereka karena lada memiliki harga jual yang tinggi dan mampu meningkatkan taraf perekonomian masyarakat kecil.
"Trok Kapai Pula Lada" adalah ungkapan masyarakat Aceh untuk memberi tamsilan kepada orang-orang yang melakukan kegiatan pada waktu mendesak dan disaat yang dianggap menguntungkan. Mereka tidak punya perencanaan dalam melakukan sesuatu tetapi lebih kepada melihat situasi pada masa yang dilaluinya.
Sekarang ini, model pertanian di Aceh sangat cocok diibaratkan dengan pepatah tersebut. Lihatlah sistem pertanian yang tidak pernah terencana. Petani hanya menanam tanaman yang harga jualnya sedang tinggi sehingga ketika tanaman itu panen maka harga jual malah anjlok. Akhirnya hanya kerugian dan keputusasaan yang didapat oleh petani. Dan dilain waktu, mereka tetap tidak mengubah pola pertanian yang berbasis harga pasar ini.
Ketika sedang bagusnya harga pepaya, para petani beramai-ramai mengolah lahan untuk ditanami pepaya. Sawah, ladang dan pekarangan dimanfaatkan untuk menanam pepaya. Harga pepaya yang pada awalnya bagus, ketika tiba musim panen malah turun drastis. Petani tidak balik modal. Ditambah lagi dengan datangnya penyakit pada tanaman pepaya.
Begitu juga ketika singkong mulai menjanjikan petani. Tanaman pepaya dimusnahkan, diganti dengan singkong. Akhirnya tetap sama, harga singkongpun anjlok. Petani merana dan mengalami kerugian. Produk berlebih tidak diolah menjadi bahan setengah jadi tetapi hanya dijual sebagai produk mentah.
Sekarang, cabe tengah mengalami peningkatan harga yang sangat signifikan. Harga cabe perkilogram berkisar dari 75 ribu rupiah sampai 100 ribu rupiah. Petani kembali bersemangat, mereka mengolah lahan-lahan tidur. Ada yang meratakan tanaman-tanaman yang sedang produksi demi mengejar harga cabai yang tinggi. Jika semua menanam cabe dan produksi cabe melimpah maka bisa dipastikan bahwa harga cabe pun akan turun. Lalu, kisah semula pun berulang kembali.
Seharusnya petani mempunyai perencanaan, mereka mampu membaca pangsa pasar meski ketika harga komuditi sedang turun. Mereka harus punya analisi usaha pertanian sehingga ketika tiba musim panen harga tetap stabil.


0 comments:
Post a Comment